Oleh: LK | September 3, 2010

(Bukan) Cerita Inspirasi

Suatu ketika ada seorang pengangguran yang kelaparan. Rasa laparnya memaksa dirinya berjalan dan mengetuk pintu dari rumah ke rumah untuk menawarkan jasa. Hingga dia mendatangi rumah orang kaya yang terkenal kikir dan memencet bel.

Sang empunya rumah membuka sendiri gerbang rumahnya, “Ada urusan apa?”

“Saya mengganggu hendak menawarkan jasa, tuan. Barang kali tuan membutuhkan tukang cuci, tukang bersih-bersih atau tukang kebun?”

“Sebenarnya tukang kebunku hari ini sedang sakit, kamu bisa menggatikannya, tetapi aku tidak bisa membayarmu banyak.”

“Tidak masalah tuan, aku hanya butuh sarapan, karena sejak tadi aku kelaparan. Makan siang dan makan malam nanti.”

“Baiklah kamu aku terima, karena kamu kelihatan lemah belum makan, aku berbaik hati akan membayarmu di muka.” Timbul ide jahat di kepala si kikir.

Si orang kaya yang kikir itu berencana memberi makan dengan sepertiga porsi. Sehingga ia hanya cukup mengeluarkan 1 porsi makan untuk membayar pengangguran itu.

“Ini, makanlah jatah sarapanmu.” Sambil memberikan sepiring yang berisi sepertiga porsi.

Si pengangguran sebenarnya kecewa, tetapi apa boleh buat, ia makan juga. Tetapi setelah habis makan, ia masih merasa lapar. Ia menunjukkan ekspresi lemas dan masih lapar, agar diwari tambahan makan.

“Kamu habis makan kok masih lemas?” Tanya si orang kaya.

“Aku masih lapar tuan.”

“Baiklah, kamu aku beri makanan lagi, tetapi itu dihitung sebagai makan siangmu.”

Dengan lahap si pengangguran makan piringnya yang ke dua. Ia juga masih lapar dan minta tambah lagi.

“Baik, ini sepiring lagi. Tapi ini aku hitung sebagai makan malammu.”

Setelah menghabiskan piring yang ke tiga, si pengangguran merasa kenyang dan puas. Orang kaya itu mulai melancarkan muslihat kikirnya.

“Kamu sudah kelihatan sehat. Sekarang mulailah bekerja. Tapi ingat, kamu sudah menghabiskan jatah sarapan, makan siang dan makan malammu. Jadi nanti aku tak perlu membayar kamu lagi.”

Dengan tenang pengangguran itu menjawab, “Jadi yang terakhir aku makan tadi adalah makan malamku?”

“Iya, aku kan sudah bilang sebelumnya.”

“Oh, kalau begitu aku harus segera pulang.”

“Bagaimana bisa… kamu kan belum bekerja.”

“Bukan begitu tuan, tahu kah anda kalau tidak ada orang yang bekerja setelah makan malam? Begitu juga denganku, aku tidak bekerja setelah makan malam.”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: