Oleh: LK | Agustus 9, 2010

MEMAKNAI KATA “GERAKAN PRAMUKA”

LK – search_lanang@yahoo.com

Sejarah mencatat, sesuatu yang diawali dengan kata GERAKAN adalah sesuatu yang besar. Kata gerakan biasa disandingkan dengan sesuatu yang bernilai besar pula. Gerakan Revolusi, Gerakan Mahasiswa, atau Gerakan Perjuangan Islam. Itulah sebabnya kepanduan, yang menjadi organisasi besar di dunia internasional menggunakan nama “Scout Movement”, yang di Indonesia mejadi “Gerakan Pramuka”. Sebuah kata “gerakan” tetunya tak sebanding dengan kata persatuan, perkumpulan, forum komunikasi atau kata lain yang sering digunakan dalam nama organisasi.

Pilihan kata “gerakan”, tentunya menjadi harapan agar Pramuka menjadi sebuah organisasi yang selalu bergerak. Bergerak menuju ke arah yang lebih baik. Makanya setiap unsur dalam Gerakan Pramuka harus juga senantiasa bergerak. Unsur utama yang menjadi objek sekaligus pelaku dalam Gerakan Pramuka adalah para pemuda. Karena pada dasarnya, Pramuka memang dibentuk sebagai “lembaga pendidikan” bagi generasi muda. Seperti yang diungkapkan Boden Powell, pendiri kepanduan, “Tujuan saya membuat kepanduan adalah membentuk para pemuda waras ditengah jaman yang edan.”

Filososi itu juga yang dilambangkan dalam lencana Dewan Ambalan dan Dewan Racana yang berupa gerigi roda. Maksudnya, gerakan setiap unsurnya akan mempengaruhi unsur-unsur yang lain. Salah satu gerigi saja berhenti bergerak, akan berpengaruh pada gerigi yang lain. Semuanya harus turut bergerak, bergerak secara dinamis, bukan statis. Gerakan yang dinamis ditunjukkan seperti ungkapan “Selesaikanlah satu pekerjaan dengan sempurna, dan segera lakukan pekerjaan yang lain”.

Tolok ukur gerakan yang dinamis adalah Jika hari ini sama dengan hari kemarin maka dikatakan kita merugi. Jika hari ini lebih jelek dibandingkan dengan hari kemarin makan kita adalah orang yang celaka. Jika hari ini lebih baik dari hari kemarin maka kita adalah orang yang beruntung.

Sehingga, organisasi yang ideal dalam Gerakan Pramuka harus menjadi sebuah “Learning Organization”. Organisasi yang selalu belajar dan menuju peningkatan kualitas seiring berjalannya waktu. Hal tersebut berarti, setiap anggotanya harus memegang prinsip sebagai seorang insan pembelajar. Yang setiap aktifitasnya di Pramuka membuatnya mempelajari hal-hal baru, merubah pribadi dan skill-nya lebih baik dari sebelumnya. Belajar bukan berarti harus ada guru atau orang yang lebih tua dari kita. Bahkan saat kita menjadi yang tertua atau yang paling berpengalaman sekalipun. Ingat, pelajaran paling berharga yang bisa kita dapatkan adalah dari pengalaman.

Seberapa banyak pelajaran yang bisa kita petik dan seberapa besar perubahan yang bisa kita hasilkan, tergantung kemampuan masing-masing dalam menyerap makna setiap kejadian. Yang terpenting adalah “change toward quality”, perubahan itu menuju ke peningkatan kualitas diri. Seberapa besar batasan juga berpengaruh. Jika aktifitas organisasi hanya dilakukan di level sekolah maka lompatan paling tinggi hanya sebatas menghadapi kepala sekolah. Ibarat cerita, ada kisah tentang seekor katak. Ketika seekor katak dikurung dalam kotak kecil  maka seumur hidupnya ia akan merasa lompatan terjauhnya hanya sejauh volume kotak tersebut. Tetapi jika katak tersebut dikurung dalam kotak yang lebih besar, tentu ia kan mampu melompat lebih jauh lagi. Apa lagi jika katak tersebut lepas di alam bebas, ia kana menyadari bahwa hanya satu lompatan besarpun tak akan cukup. Ia akan tahu bahwa dalam hidup perlu banyak lompatan-lompatan besar.

Carpe di Em, “hidup itu mengalir, diam berarti mati”. Dalam memaknai bergerak, kita juga bisa menganalogika diri sebagai air. Sifat istimewa air adalah selalu mengalir ke bawah. Jika dalam alirannya terhambat, maka air akan menjalar kesamping kiri dan kanan hingga menemukan jalan untuk mengalir ke bawah. Seseorang yang gerakannya stagnan, tanpa perubahan, tidak ada bedanya dengan orang yang tak bernyawa. Begitu juga organisasi yang statis di tempat yang “itu-itu saja”, tak ada bedanya dengan organisasi yang mati.

Termasuk juga dalam proses pembelajaran, ketika menghadapi “gerigi” yang bergerak tak selaras dengan gerigi lainnya. Bisa lambat atau terlalu cepat atau bahkan tak bergerak sama sekali. Menjadi tantangan bagi kita, bagaimana agar gerigi-gerigi tersebut bisa kembali berjalan selaras dan tak menghambat gerak gerigi yang lain. Kemungkinan terburuk adalah dengan berat hati gerigi tersebut harus dikeluarkan atau digantikan dengan gerigi yang lain.

Kesimpulan:

Dengan kata “bergerak” yang mengawali nama Gerakan Pramuka menunjukkan bahwa Pramuka dibentuk untuk melahirkan pemuda-pemuda yang dalam hidupnya bergerak. Bergerak secara dinamis, dengan gerakan – gerakan kecil tiap individu menghasilkan gerakan yang besar yang mampu merubah masa depan menjadi lebih baik.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: